Selasa, 12 April 2016

PERBANDINGAN ALIRAN : AKAL DAN WAHYU




PERBANDINGAN ALIRAN : AKAL DAN WAHYU
Oleh : Akhsanul Marom
            Mengenai pengetahuan tentang ketuhanan dan kewajiban manusia terhadap tuhan dalam ajaran Islam, manusia memiliki dua alat untuk mengetahuinya yakni akal dan wahyu. Akal sebagai anugerah dari sang Kholiq memiliki daya pikir dan berusaha untuk sampai kepada Tuhan. Sedangkan wahyu yang datang dari Tuhan adalah mengandung petunjuk dan ajaran bagi manusia tentang ketuhanan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan.
            Konsep tentang akal dan wahyu dalam dunia teologi, Prof. Harun Nasution menggambarkannya sebagai berikut, “Tuhan berdiri di puncak alam maujud dan manusia di kaki-NYA berusaha dengan akalnya untuk sampai kepada Tuhan; dan Tuhan dengan belas kasihan-NYA terhadap kelemahan manusia, diperbandingkan dengan ke-Maha kuasaan Tuhan, menolong manusia dengan menurunkan wahyu melalui para Rosul-NYA. Dari uraian ini maka dapat disimpulkan bahwa akal dan wahyu memiliki keterkaitan erat dalam hal mengetahui tentang ketuhanan.
            Berawal dari sinilah timbul polemik dalam keyakinan yang memunculkan aliran-aliran teologi dalam Islam, seperti Mu’tazilah, Asy’ariyah, Al Maturidziyah dll. Aliran-aliran ini ada yang meletakkan fungsi akal lebih dominan dari pada wahyu dalam menanggapi persoalan dan akal mempunyai peran yang lemah. Begitu juga sebaliknya.
Pengertian akal dan wahyu
1.      Akal
Akal berasal dari bahasa Arab yakni al aqlu, dalam kamus Arab kata ini berarti mengikat dan menahan. Dalam pemahaman Profesor Izutzu, kata al aqlu pada zamn jahiliah dipakai dalam arti kecerdasan praktis (practical intelligence) yang dalam istilah psikologi modern disebut kecakapan dalam memecahkan masalah (problem solving capacity) menurut pendapatnya orang berakal adalah orang yang dapat menyelesaikan masalah.
Selanjutnya akal yang berati memahami, memahami ini dilakukan oleh hati. salah satu yang menjelaskan demikian adalah:
ولقد ذرانا لجهنم كثيرا من الجن و الانس لهم قلوب لا يفقهون بها ولهم و اعين لا يبصرون بها ولهم اذن لا يسمعون بها او لئك كا لانعم هم اضل او لئك هم الغافلون.

Artinya : “sesungguhnya kami ciptakan bagi neraka banyak jin dan manusia, mereka mempunyai kalbu yang dengannya mereka tidak dapat memahami, mempunyai mata yang dengannya mereka tidak melihat dan mempunyai telinga yang dengannya mereka tidak mendengar, mereka seperti binatang bahkan lebih sesat lagi, merekalah orang yang lalai”.
            Kata al aql kemudian masuk kedalam filsafat Islam dan mengalami perubahan dalam arti. Dengan masuknya filsafat Yunani kedalam pemikiran Islam al aql mengandung makna sama dengan kata nous yang berarti daya berpikir yang terdapat dalam jiwa manusia.
            Dengan ini, akal dalam pengertian Islam bukanlah otak, akan tetapi daya pikir yang terdapat dalam jiwa manusia, daya yang sebagaimana digambarkan dalam Al qur’an, memperoleh pengetahuan dengan memperhatikan sekitarnya. Inilah yang dikontraskan dalam Islam dengan wahyu yang membawa pengetahuan dari luar diri manusia yaitu Tuhan.
2.      Wahyu
Kata wahyu berasal dari bahasa arab yaitu al-wahy yang berarti suara, api dan kecepatan. Wahyu juga bisa diartikan dengan bisikan, isyarat, tulisan dan kitab. Tetapi kata ini lebih dikenal dengan arti apa yang disampaikan Tuhan kepada para Nabi.
Wahyu yang dimaksud dalam Islam bukanlah hanya isi tetapi juga teks Arab dari ayat-ayat sebagaimana terkandung dalam Al qur’an. Kebenaran datangnya Al qur’an dalam teks arabnya dari Tuhan adalah bersifat absolut.
Dengan uraian pengertian akal dan wahyu diatas, pembahasan mengenai peranan akal dan wahyu dalam sistem teologi Mu’tazilah, Asy’ariyah dan Maturidziyah akan menjadi pembahasan selanjutnya.
Akal dan wahyu menurut Mu’tazilah, Asya’riyah dan maturidziyah
1.      Mu’tazilah
Mu’tazilah adalah aliran teologi yang bersifat rasional dan liberal, dan disebut juga dengan “Kaum Rasional Islam”.
Bagi kaum Mu’tazilah akal adalah lebih utama dibandingkan dengan Wahyu. Menurut mereka berterima kasih kepada Tuhan sebelum wahyu  turun adalah wajib, melakukan hal yang baik dan menjauhi yang jelek adalah kewajiban. Dengan demikian menururut pendapat mereka bahwa sebelum turunnya wahyu, akal manusia dapat mengetahui Tuhan, kewajiban manusia terhadap Tuhan, hal yang baik dan hal yang buruk, kewajiban melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan.
Abu Al Huzail salah satu tokoh Mu’tazilah dengan tegas mengatakan bahwa sebelum turunnya wahyu manusia berkewajiban mengetahui Tuhan. Dan jika ia tidak berterima kasih kepadaTuhan akan dikenakan hukuman. Dengan kekuatan akal manusia wajib membedakan yang baik dan yang buruk serta berkewajiban melakukan hal yang baik, seperti berlaku adil dan benar, menjauhi yang buruk seperti berdusta dan bersikap dhalim. Dengan maksud yang sama hal ini juga disampaikan oleh Al Nazam dan golongan Al Murdar yang dipelopori oleh Isa ibn Sabih.
Berbelok dari akal, bagaimana peranan wahyu bagi kaum Mu’tazilah?. Mengutip pendapat Al qadhi Abdul Jabbar dalam buku Syarh Al-Ushul Al-Khamsah, menurutnya akal hanya mampu mengetahui bahwa yang baik itu memberi maslahat dan yang buruk merusak secara garis besar saja. Sedangkan yang menetapkan sebuah perbuatan itu baik atau buruk secara terperinci adalah wahyu.
Maka kesimpulannya adalah akal manusia adalah lebih kuat dibandingkan dengan wahyu. Yang mana wahyu bagi mereka berperan memperkuat sebuah pemikiran manusia.
Disamping peranan wahyu memperkuat, memperjelas dan memberikan perincian atas pemikiran manusia dalam hal baik dan buruk, menurut Al Juba’i, fungsi wahyu selanjutnya adalah menjelaskan perincian hukuman dan upah yang akan diterima manusia di Akhirat. Maka bagi kaum Mu’tazilah fungsi wahyu lebih bersifat konfirmasi daripada informasi.
2.      Asy’ariyah
Sistem teologi Asy’ariyah bersifat tradisional dimana lebih mengutamakan wahyu daripada akal, kaum ini memberikan daya terkecil kepada akal dan fungsi terbesar kepada wahyu. Menurut mereka, akal hanya dapat mengetahui Allah saja, selain itu diketahui melalui wahyu. Menurut Al Ghazali, sekiranya syari’at tidak ada, manusia tidak berkewajiban mengetahui Tuhan dan tidak akan berkewajiban berterima kasih kepada-NYA atas segala nikmat-NYA.
Lebih dari itu, Al Baghdadi menjelaskan bahwa “akal dapat mengetahui Tuhan, tetapi tidak dapat mengetahui kewajiban berterima kasih kepada Tuhan, karena segala kewajiban dapat diketahui henya dengan wahyu. Oleh karena itu, sebelum turunnya wahyu, tidak ada kewajiban-kewajiban dan tidak ada larangan-larangan bagi manusia. Jika seseorang sebelum wahyu turun, sekerinya dapat mengetahui Tuhan serta sifat-sifat-NYA dan kemudian percaya kepada-NYA, maka orang tersebut adalah mukmin tetapi tidak berhak untuk mendapat upah atau ganjaran dari Tuhan. Jika orang tersebut dimasukkan kedalam surga, maka itu karena kemurahan dari Tuhan. Dan jika sebaliknya, jika seseorang sebelum adanya wahyu tidak percaya kepada Tuhan, maka ia adalah kafir dan ateis tetapi tidak mesti mendapat hukuman dari Tuhan. Sekiranya ia masuk neraka selama-lamanya itu tidak merupakan hukuman.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa akal bagi kaum Asy’ariyah hanya dapat mengetahui Tuhan saja, selain itu diketahui dengan wahyu. Oleh karena itu wahyu bagi kaum Asy’ariyah lebih bersifat informasi daripada konfirmasi, karena menurut mereka lemah. Tetapi pengiriman Rasul bagi mereka adalah jaiz. Sesuai dengan konsep kehendak mutlak Tuhan tidak ada kewajiban bagi Tuhan untuk mengutus seorang Rasul.
3.      Maturidziyah
Maturidziyah dan Asy’ariyah adalah dua golongan yang mirip, dua golongan ini disebut juga dengan golongan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, tetapi ada sedikit perbedaan dari dua golongan ini mengenai peranan akal dan wahyu. Maturidziyah sendiri terpecah menjadi dua yang masing-masing berbeda pendapat dalam meletakkan kedudukan akal dan wahyu.
Maturidziyah samarkand dengan tokoh Abu Mansur Al Maturidzi dan Maturidziyah Bukhara dengan tokoh Al Bazdawi.
Maturidziyah Samarkand berpendapat bahwa hanya satu yang tidak dapat diketahui akal yaitu butir keempat. Oleh karena itu, diperlukan wahyu. Ketiga butir lainnya dapat diketahui dengan akal.
Dalam hal ini Maturidziyah Samarkand sependapat dengan Mu’tazilah yang mengatakan akal manusia mampu mengetahui Tuhan, kewajiban mengetahui Tuhan, dan mengetahui yang baik dan yang buruk. Namun kewajiban mengerjakan yang baik dan menjauhi yang buruk bagi Mu’tazilah dapat diketahui dengan akal akan tetapi bagi Maturidziyah Samarkand diketahui dengan wahyu.
Adapun Maturidziyah Bukhara, baginya hanya ada dua yang dapat diketahui dengan akal, yaitu mengetahui Tuhan dan mengetahui kebaikan dan keburukan. Akibat pendapat ini ialah mengetahui Tuhan dalam arti berterima kasih kepada Tuhan sebelum turunnya wahyu adalah wajib bagi manusia.
Menurut Abu Uzbah “sebelum adanya para Rasul, percaya kepada Tuhan tidaklah wajib an tidak percaya kepad Tuhan bukanlah perbuatan dosa karena kewajiban mengetahui Tuhan dan kewajiban berbuat baik dan meninggalkan keburukan hanya diketahui setelah turunnya wahyu atau sesudah adanya Rasul. Fungsi akal bagi Maturidziyah Bukhara adalah sebagai pengetahuan, dan kewajiban diterima manusia dari wahyu.







Sumber : Buku Sejarah Pemikiran Dalam Islam. Karya Drs. H.M Amin Nurdin, MA. Dan Drs. Afifi Fauzi Abbas, MA.

Sabtu, 09 April 2016

SPMB MANDIRI UIN JAKARTA "BUKU PREDIKSI SOAL-SOAL SPMB MANDIRI"






WORO-WORO!

Akhirnya Datang juga!!!


bagi agan-agan yang ingin masuk UIN JKT nih kita punya buku yang insya Allah bisa membantu agan-agan masuk UIN JKT, buku ini sudah terbukti kualitasnya, setiap tahunnya kita menerbitkan buku yang berisi prediksi soal-soal SPMB UIN JKT. mengapa harus buku ini? karena buku ini bukan hanya berisi prediski soal-soal saja, akan tetapi buku ini juga berisi kisi-kisi soal, cara pengerjaan, dan tentunya pembahasan dan kunci jawabannya. sehingga agan-agan bisa belajar dengan mudah. buku ini sangat diminati tiap tahunnya karena banyak memiliki kelebihan.

TUNGGU APA LAGI? ayo di order....!



TELAH TERBIT!!!!
BUKU SPMB UIN JAKARTA TAHUN 2017.
Keunggulan buku Prediksi Soal SPMB MANDIRI UIN Jakarta ini:
  • Penyusunan soal-soal adalah hasil analisis dari soal-soal SPMB UIN Jakarta dari 3 tahun sebelumnya.
  • Soal-soal dalam satu mata pelajaran, dikerjakan setidaknya oleh 10 Mahasantri.
  • Penyusunan Buku tidak kurang dari 1 bulan lamanya.
  • Mencakup semua soal mata pelajaran yang akan diujikan (Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, Bahasa Inggris,  Pengetahuan Agama, IPA, IPS, Matematika IPA, Matematika IPS, Tes Bakat Skolastik).
  • Setiap soal telah dikonfirmasi kepada ahli (dosen/ ustadz) yang sesuai dengan bidang pelajaran.
  • Setiap tahun selalu menerbitkan buku dengan isi dan analisis terbaru.
  • Harga sangat terjangkau dan tercepat penyediannya.
TUNGGU APA LAGI? ayo di order....! HUB : 085870450890 via sms/telpon.

The Kiss by Kate Chopin

Title:     The Kiss

Author: Kate Chopin


It was still quite light out of doors, but inside with the curtains drawn and the smouldering fire sending out a dim, uncertain glow, the room was full of deep shadows.
Brantain sat in one of these shadows; it had overtaken him and he did not mind. The obscurity lent him courage to keep his eves fastened as ardently as he liked upon the girl who sat in the firelight.
She was very handsome, with a certain fine, rich coloring that belongs to the healthy brune type. She was quite composed, as she idly stroked the satiny coat of the cat that lay curled in her lap, and she occasionally sent a slow glance into the shadow where her companion sat. They were talking low, of indifferent things which plainly were not the things that occupied their thoughts. She knew that he loved her--a frank, blustering fellow without guile enough to conceal his feelings, and no desire to do so. For two weeks past he had sought her society eagerly and persistently. She was confidently waiting for him to declare himself and she meant to accept him. The rather insignificant and unattractive Brantain was enormously rich; and she liked and required the entourage which wealth could give her.
During one of the pauses between their talk of the last tea and the next reception the door opened and a young man entered whom Brantain knew quite well. The girl turned her face toward him. A stride or two brought him to her side, and bending over her chair--before she could suspect his intention, for she did not realize that he had not seen her visitor--he pressed an ardent, lingering kiss  upon her lips.
Brantain slowly arose; so did the girl arise, but quickly, and the newcomer stood between them, a little amusement and some defiance struggling with the confusion in his face.
"I believe," stammered Brantain, "I see that I have stayed too long. I--I had no idea--that is, I must wish you good-by." He was clutching his hat with both hands, and probably did not perceive that she was extending her hand to him, her presence of mind had not completely deserted her; but she could not have trusted herself to speak.
"Hang me if I saw him sitting there, Nattie! I know it's deuced awkward for you. But I hope you'll forgive me this once--this very first break. Why, what's the matter?"
"Don't touch me; don't come near me," she returned angrily. "What do you mean by entering the house without ringing?"
"I came in with your brother, as I often do," he answered coldly, in self-justification. "We came in the side way. He went upstairs and I came in here hoping to find you. The explanation is simple enough and ought to satisfy you that the misadventure was unavoidable. But do say that you forgive me, Nathalie," he entreated, softening.
"Forgive you! You don't know what you are talking about. Let me pass. It depends upon--a good deal whether I ever forgive you."
At that next reception which she and Brantain had been talking about she approached the young man with a delicious frankness of manner when she saw him there.
"Will you let me speak to you a moment or two, Mr. Brantain?" she asked with an engaging but perturbed smile. He seemed extremely unhappy; but when she took his arm and walked away with him, seeking a retired corner, a ray of hope mingled with the almost comical misery of his expression. She was apparently very outspoken.
"Perhaps I should not have sought this interview, Mr. Brantain; but--but, oh, I have been very uncomfortable, almost miserable since that little encounter the other afternoon. When I thought how you might have misinterpreted it, and believed things" --hope was plainly gaining the ascendancy over misery in Brantain's round, guileless face--"Of course, I know it is nothing to you, but for my own sake I do want you to understand that Mr. Harvy is an intimate friend of long standing. Why, we have always been like cousins--like brother and sister, I may say. He is my brother's most intimate associate and often fancies that he is entitled to the same privileges as the family. Oh, I know it is absurd, uncalled for, to tell you this; undignified even," she was almost weeping, "but it makes so much difference to me what you think of--of me." Her voice had grown very low and agitated. The misery had all disappeared from Brantain's face.
"Then you do really care what I think, Miss Nathalie? May I call you Miss Nathalie?" They turned into a long, dim corridor that was lined on either side with tall, graceful plants. They walked slowly to the very end of it. When they turned to retrace their steps Brantain's face was radiant and hers was triumphant.
Harvy was among the guests at the wedding; and he sought her out in a rare moment when she stood alone.
"Your husband," he said, smiling, "has sent me over to kiss you. "
A quick blush suffused her face and round polished throat. "I suppose it's natural for a man to feel and act generously on an occasion of this kind. He tells me he doesn't want his marriage to interrupt wholly that pleasant intimacy which has existed between you and me. I don't know what you've been telling him," with an insolent smile, "but he has sent me here to kiss you."
She felt like a chess player who, by the clever handling of his pieces, sees the game taking the course intended. Her eyes were bright and tender with a smile as they glanced up into his; and her lips looked hungry for the kiss which they invited.
"But, you know," he went on quietly, "I didn't tell him so, it would have seemed ungrateful, but I can tell you. I've stopped kissing women; it's dangerous."
Well, she had Brantain and his million left. A person can't have everything in this world; and it was a little unreasonable of her to expect it.

-THE END-

Kate Chopin's short story: The Kiss

PERBEDAAN ANTARA DESA DENGAN KOTA DAN PERBEDAAN MASYARAKAT DESA DENGAN MASYARAKAT KOTA

PERBEDAAN ANTARA DESA DENGAN KOTA DAN PERBEDAAN MASYARAKAT DESA DENGAN MASYARAKAT KOTA




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang      
Antara desa dan kota secara sepintas kilas hanya mengenai perbedaan geografis saja, tetapi bila kita lihat secara mendasar tidaklah demikian. Bahwa kota dan desa mempunyai perbadaan yang unik dan kompleks sekali. Baik dilihat dari segi jumlah penduduknya, sosial ekonominya, kebudayaan, tata nilai dan normanya. Oleh karena itu bila kita akan mempelajari masyarakat kota di satu pihak dan masyarakat kota di lain pihak, kita harus melihat secara utuh dan komplek pula.
            `persekutuan hidup yang paling kecil di mulai saat manusia primitif mencari makan. Kenyataan ini disesaikan dengan persediaan makanannya. Berkembangnya cara bertani menyebabkan lahirnya suatu persekutuan hidup permanen pada suatu tempat, desa, dengan sifat yang khas, yaitu : (a) kekeluargaan, (b) adanya kolektifitas dalam pembagian tanah dan pengerjaannya, (c) ada kesatuan ekonomis yang memenuhi kebutuhan sendiri. Menurut koentjaraningrat, suatu masyarakat desa menjadi suatu persekutuan hidup dan kesatuan sosial didasarkan pada dua prinsip :
a.      Prinsip hubungan kekerabatan (geneologis).
b.      Prinsip hubungan tinggal dekat/teritorial.
Kurang lebih 81,2% dari wilayah Indonesia bertempat tinggal di desa. Partisipasi masyarakat pedesaan amat di perlukan bagi hasilnya pembangunan dan sekaligus akan dapat meningkatkan penghidupan masyarakat di pedesaan.
Dalam kesempatan kali ini penulis akan membahas tentang desa dan sesuatu yang berhubungan dengan desa dalam makalah ini. Akan tetapi dengan keterbatasan penulis makalah ini hanya membahas materi yang di tentukan secara ringkas saja.
B.    Rumusan masalah
1.      Pengertian desa.
2.      Unsur-unsur desa.
3.      Fungsi dan ciri-ciri desa.
4.      Perbedaan antara masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan.
C.     Batasan masalah
Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah mengenai pembahasan secara ringkas mengenai desa dan sesuatu yang berhubungan dengan desa.





D.    Maksud dan tujuan
Tujuan di buatnya makalah ini adalah :
1.      Mengetahui pengertian desa
2.      Mengetahui unsur-unsur desa
3.      Mengetahui fungsi desa
4.      Mengetahui perbedaan antara masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan
E.     Metode penelitian
Metode yang penulis lakukan dalam menyusun karya tulis ini adalah menggunakan metode pustaka dan mencari sumber-sumber informasi yang terdapat dalam lliteratur yang Insyaallah dapat dipercaya.

  
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengetian
Desa ialah suatu hasil perpaduan antara kegiatan sekelompok manusia dengan lingkungannya. Hasil dari perpaduan itu ialah suatu wujud atau kenampakan di muka bumi yang di timbulkan oleh unsur-unsur fisiografi, sosial, ekonomi, politik, dan kulturalyang saling berinteraksi antar unsur tersebut dan juga dalam hubungannya dengan daerah lain.
Menurut Sutardjo Kartohadikusumo, menyatakan bahwa :
“desa ialah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa mengadakan masyarakat sendiri.”
Menurut Bintarto desa merupakan perwujudan atau kesatuan geografi, social, ekonomi, politik dan kultural yang terdapat di situ (suatu daerah) dalam hubungannya dan pengaruhnya secara timbal-balik dengan daerah lain.
Menurut Bambang Utoyo Desa merupakan tempat sebagian besar penduduk yang bermata pencarian di bidang pertanian dan menghasilkan bahan makanan.
Sedangkan menurut Paul h. Landis, desa adalah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa. dengan cirri-ciri sebagai berikut :
·         Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antra ribuan jiwa
·         Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukuaan terhadap kebiasaan
·         Cara berusaha (ekonomi) aalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam sekitar seperti iklim, keadaan alam, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa, disebut bahwa Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
B.    Unsur-unsur desa
A.      Daerah, dalam arti tanah-tanah yang produktif dan yang tidak, besrta penggunanya, termasuk juga unsur lokasi, luas dan batas yang merupakan lingkungan geografis setempat.
B.      Penduduk, adalah hal meliputi jumlah, pertambahan kepadatan, persebaran dan mata pencaharian penduduk setempat. Penduduk adalah unsur yang penting bagi desa. “Potential man power” terdapat di desa yang masih terikat hidupnya dalam bidang pertanian.
C.      Tata kehidupan, dalam hal ini pola tata pergaulan dan ikatan-ikatan pergaulan warga desa, jadi menyangkut seluk –beluk kehidupan masyarakat desa.
unsur lain yang termasuk unsur desa adalah unsur letak. Pada umumnya letak suatu desa selalu jauh dari kota atau dari pusat keramaian. Unsur letak menentukan besar kecilnya isolasi suatu daerah terhadap daerah lain.
Corak kehidupan di desa di dasarkan pada ikatan kekeluargaan yang erat.masyarakat merupakan gameinschaft yang memiliki unsur gotong royong yang kuat.
            Faktor lingkungan geografis memberi pengaruh juga terhadap kegotong royongan ini, misalnya :
a.      Faktor topografi setempat yang memberikan suatu ajang hidup dan suatu bentuk adaptasi kepada penduduk.
b.      Faktor iklim yang dapat memberikan pengaruh positif maupun negatif terhadap penduduk terutama petani-petaninya.
c.       Faktor bencana alam yang harus dihadapi dan dialami bersama.

C.     Fungsi dan ciri-ciri desa
            Pertama, dalam hubungannya dengan kota, maka desa yang merupakan “hinterland” atau daerah dukung berfungsi sebagai suatu daerah pemberi makanan pokok seperti padi, jagung, ketela, dll.
            Kedua, desa di tinjau dari sudut potensi ekonomi berfungsi sebagai lumbung bahan mentah (raw material) dan tenaga kerja (man power) yang tidak kecil artinya.
            Ketiga, dari segi kegiatan kerja (occupation) desa dapat merupakan desa agraris, desa industri, desa nelayan, dll.
            Menurut Sutopo Yuwono : “salah satu peranan peranan desa terletak di bidang ekonomi. Daerah pedesaan merupakan tempat produksi pangan dan tempat produksi komoditi ekspor. Peranan yang vital menyangkut produksi pangan yang akan menentukan tingkat kerawanan dalam jangka pembinaan ketahanan nasional. Oleh karena itu, peranan masyarakat pedesaan dalam mencapai sasaran swasembada pangan adalah bersifat vital.
            Keberhasilan dalam menggali dan mengembangkan potensi daerah pedesaan yang bermacam-macam itu akan memperkuat ketahanan secara nasional.


Ciri-ciri masyarakat pedesaan adalah sebagai berikut:
1.      Di dalam masyarakat pedesaan memiliki hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan lainnya di luar batas-batas wilayahnya.
2.      System kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan (gemeinschaft atau paguyuban)
3.      Sebagian besar warga masyarakat hidup dari pertanian. Pekerjaan-pekerjaan yang bukan pertanian merupakan pekerjaan sambilan (part time) yag biasa mengisi waktu luang.
4.      Masyarakat tersebut homogen, seperti dalam hal mata pencaharian, agama, adat-istiadat dan sebagainya.
Masyarakat pedesaan identic dengan istilah ‘gotong-royong’ yang merupakan kerja sama untuk mencapai kepentingan-kepentingan mereka.cam itu akan memperkuat ketahanan secara nasional.
D.    Perbedaan Masyarakat Pedesaan Dan Masyarakat Perkotaan
            Kehidupan masyarakat pedesaan sangatlah berbeda dengan masyarakat perkotaan. Perbedaan yang mendasar antara keduanya adalah berasal dari keadaan lingkungan, yang mengakibatkan adanya dampak terhadap personalitas dari segi-segi kehidupan. Kesan populer masyarakat perkotan terhadap masyarakat pedesaan adalah bodoh, lambat dalam berpikir dan bertindak, serta mudah tertipu, dsb. Ini disebabkan masyarakat perkotaan mengamatinya sepintas, dan kurang pengalaman dengan keadaan lingkungan pedesaan.
            Untuk menentukan suatu komunitas apakah termasuk masyarakat pedesaan atau masyarakat perkotaan, dari segi kuantitatif sulit dibedakan karena adanya hubungan antara konsentrasi penduduk dengan gejala sosial. Lebih sesuai apabila menenentukannya dari segi kualitas atau kriteria kualitatif, dimana struktur, fungsi, ada- istiadat, serta corak kehidupannya dipengaruhi oleh proses penyesuaian ekologi masyarakat.
             Masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan masing-masing dapat diperlakukan sebagai sistem jaringan yang kekal dan penting. Untuk membedakan dari kedua masyarakat tersbut dapat di telusuri dari :
1.      Lingkungan umum dan orientasiterhadap alam.
Masyarakat pedesaan berhubungan erat dengan alam, disebabkan oleh letak geografinya. Mereka sulit mengontrol kenyataan alam yang dihadapinya, padahal para petan realitas alam sangatlah vital dalam menunjang kehidupannya. Penduduk yang tinggal di desa akan banyak ditentukan oleh kepercayaan-kepercayaan dan hukum-hukum alam. Tentu ini sangat berbeda dengan masyarakat perkotaan yang bebas dari realitas alam.
2.      Pekerjaan atau mata pencaharian.
Pada umumnya pekerjaan masyarakat pedesaan adalah bertani. Tetapi mata pencaharian berdagang merupakan pekerjaan sekunder dari pekerjaan yang nonpertanian. Sebab beberapa daerah pertanian tidak lepas dari kegiatan usaha atau industri. Seorang petani harus kompeten dalam berbagai keahlian seprti memelihara tanah, bercocok tanam, pemasaran, dan sebagainya. Sedangkan mata pencaharian masyarakat perkotaan cenderung terspesialisasi, seperti menjadi manajer sebuah perusahaan, ketua dalam sebuah birokrasi. Jadi keahlian seorang petani lebih luas dibandingkan masyarakat perkotaan.
3.      Ukuran komunitas.
Komunitas dalam suatu pedesaan biasanya lebih kecil dari pada komunitas di perkotaan.
4.      Kepadatan penduduk
Penduduk desa kepadatannya lebih rendah bila di bandingkan dengan kepadatan penduduk kota. Kepadatan penduduk suatu komunitas kenaikannya berhubungan dengan klasifikasi dari kota itu sendiri.

5.      Homogenitas dan heterogenitas.
Homogenitas atau persamaan dalam ciri-ciri sosial dan psikologi, bahasa, kepercayaan, adat-istiadat, dan perilaku sering nampak pada masyarakat pedesaan bila di banding dengan masyarakat perkotaan. Sebaliknya, di kota penduduknya heterogen, terdiri dari orang-orang dengan macam-macam subkultur dan kesenangan, kebudayaan, matapencaharian. Sebagai contoh, dalam perilaku, dan juga bahasa, masyarakat kota lebih heterogen. Hal ini dikarenakan daya tarik dari mata pencaharian, pendidikan, komunikasi, dan transportasi, menyebabkan kota menarik orang-orang dari berbagai etnis untuk berkumpul di kota.
6.      Difernsiasi sosial.
Keadaan heterogen dari penduduk kota berindikasi pentingnya derajat yang tinggi dalam diferensiasi sosial.  Berbeda dengan penduduk desa, tingkat homogenitas alami yang cukup tinggi, dan berdiri sendiri dengan derajat yang rendah dari pada diferensiasi sosialnya.
7.      Pelapisan sosial.
Kelas sosial di dalam masyarakat sering nampak dalam perwujudan seperti piramida sosial, yaitu kelas-kelas yang tinggi berada pada posisi atas piramida, kelas menengah ada diantara kedua tingkat kelas ekstrem dari masyarakat.
8.      Mobilitas sosial.
Terjadinya mobilitas sosial ini disebabkan oleh masyarakat kota yang heterogen, terkonsenterasinya kelembagaan-kelembagaan, saling tergantungnya organisasi-organisasi, dan tingginya diferensiasi sosial. Mobilitas lebih sering terjadi di kota di bandingkan di desa. Mobilitas teritorial lebih sering di temukan di kota dari pada di desa, dan segi-segi penting dari mobilitas tersebut adalah :
a.      Banyak penduduk yang pindah rumah ke rumah lain, karena sistem kontrak yang ada di perkotaan; dan di desa tidaklah demikian.
b.      Waktu yang tersedia bagi penduduk kota untuk bepergian per satuan penduduk lebih banyak di bandingkan dengan orang-orang desa.
c.       Bepergian setiap hari di dalam atau di luar dan pusat penduduk lebih besar di kota di bandingkan di desa.
d.      Waktu luang di desa lebih sedikit di bandingkan di desa, karena mobilitas penduduk kota lebih tinggi.
9.      Interaksi sosial.
Perbedaan antara interaksi sosial di desa dan di kota sangatlah kontras, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Perbedaannya di antaranya :
a.      Masyarakat pedesaan lebih sedikit jumlahnya dan tingkat mobilitas sosialnya lebih rendah, maka kontak pribadi per individu lebih sedikit.
b.      Dalam kontak sosial berbeda secara kuantitatif maupun secara kualitatif.  Penduduk kota lebih sering kontak, tetapi cenderung formal sepintas lalu, tidak bersifat pribadi (impersonal), tetapi melalui tugas atau kepentingan yang lain. Berbeda dengan di desa, yang lebih banyak dengan tatap muka, ramah-tamah (informal), dan pribadi.
10.  Pengawasan sosial.
Tekanan sosial oleh masyarakay pedesaan lebih kuat karena kontaknya yang bersifat pribadi dan ramah-tamah (informal), dan keadaan masyarakat yang homogen. Penyesuaian terhadap norma-norma sosial lebih tinggi dengan tekanan sosial yang informal, dan nantinya dapat berarti sebagai pengawasan sosial. Di kota pengawasan sosial lebih bersifat formal, pribadi, kurang terkena aturan yang di tegakkan, dan peraturan lebih menyangkut masalah pelanggaran.
11.  Pola kepemimpinan.
Kepemimpinan di pedesaan cenderung banyak di tentukan oleh kualitas pribadi dari individu. Keadaan ini di sebabkan oleh lebih luasnya kontak tatap muka, dan individu lebih banyak saling mengetahu. Misalnya karena kesalehan, kejujuran, jiwa pengorbanannya dan pengalamannya.
12.  Standar kehidupan
Berbagai keperluan masyarakat, pendidikan, rekreasi, fasilitas agama dan fasilitas lain akan menyenangkan bila disediakan dan cukup nyata di rasakan oleh penduduk yang jumlahnya padat, Inilah keadaan yang terjadi di kota. Sedangkan di desa terkadang tidaklah demikian, orientasi hidup dan pola pikir yang sederhana dan standar hidup demikian kurang mendapat perhatian.
13.  Nilain dan sistem nilai.
Nilai dan sistem nilai di desa dengan di kota berbeda, dan dapat diamati dalam kebiasaan, cara, dan norma yang berlaku.pada masyarakat pedesaan, misalnya mengenai nilai-nilai keluarga, dalam masalah bergaul dan mencari jodoh kepala keluarga masih berperan. Nilai-nilai agama yang masih di pegang dalam bentuk pendidikan agama (madrasah). Dan masih banyak lagi nilai lainnya yang berbeda dengan masyarakat kota. Dalam hal ini masyarakat kota bertentangan atau tidak sepenuhnya sama dengan sistem nilai di desa.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari uraian diatas sedikit banyak kita dapat memperoleh gambaran tentang kompleksitas dari masyarakat pedesaan.
Desa ialah suatu hasil perpaduan antara kegiatan sekelompok manusia dengan lingkungannya. Hasil dari perpaduan itu ialah suatu wujud atau kenampakan di muka bumi yang di timbulkan oleh unsur-unsur fisiografi, sosial, ekonomi, politik, dan kultura yang saling berinteraksi antar unsur tersebut dan juga dalam hubungannya dengan daerah lain.

Antara desa dan kota secara sepintas kilas hanya mengenai perbedaan geografis saja, tetapi bila kita lihat secara mendasar tidaklah demikian. Bahwa kota dan desa mempunyai perbadaan yang unik dan kompleks sekali.